Menulis part pertama ini mungkin aga dikit kelabu... 😯
Tapi setidaknya berbagi dengan para mommy / bunda yg diluar sana agar tidak merasa sendirian ketika dihadapkan harus menjalani hidup sendiri tanpa adanya suami / pasangan hidupnya lagi.
Orang mungkin bisa memberi berjuta kalimat pamungkas penguat hati, atau download kalimat mario teguh yg sangat super itu... atau bercanda haha hihi mengganti kesedihan, tetap aja pasti ada rasa 'bolong' ketika dihadapkan keadaan Perpisahan / Perceraian.
Ok let share... notes ini ngga ada indikasi menjelekkan mantan atau membaguskan diri sendiri, atau pamer curhat galau.
I just wanna wrote it. That's it.
Well, i have already divorce before... dan dengan khadiran 2 anak yg lmayan udah gede... si kakak 7 tahun dan si adek 2tahun. Sepasang cowo cewe yg lucu2. Syalloma & Eleazar.
Kalau ditanya "why divorce?" ... ehm part ini aku mau SKIP. Karena memang keputusan ditangan aku yg tidak sejalan sepaham dengan prinsip my ex hubby. Dan juga melalui pertimbangan panjang, percakapan dewasa, bahkan mediasi dicoba dilakukan... sampai finalnya aku yg decide to finish marriage.
Nah, saat itu aku berusia 28 tahun. Bekerja sebagai sales supervisor untuk perusahaan asuransi. Team yang aku pegang banyak. Dan aku selalu dapat team baru yg perlu diajarin basic. Mungkin karena kemampuanku development people atau dasarnya mantan pengajar..jadi sukanya ngajar2 in anak baru... hehe...
Anyway, make it fast... salah satu anak team tsb kepincut sama aku... yah namanya perempuan di deketin trus dengan segala kebaikan... lama lama pertemanan dekat.
Blablabla...ternyata usianya jauuuuhhh...7 tahun lebih muda.. what? 😕
Yep... dengan sgala penolakan...si Muda atau mungkin enakan disebut si Chubby. Terus berupaya (like a man does..is hunter). Sampai akhirnya si chubby ini nekat ke rumah ngadep nyokap dan mencoba untuk meyakinkan untuk The New Chapter of life.
Kalau di tilik..emg dia aga tergila gila dengan gaya ku yg cablak dan mungkin aga different untuk leads team.
Sampai aku dapat penghargaan The best supervisor. He is so proud anyway...
Aku ragu lah... mana mau keluarganya..beneran..penolakan terjadi dibelakangku dan masih dengan keyakinan supranaturalnya...(becanda) dia meyakinkan kalayak keluarganya.
Sim salabim..prkenalan agustus.. pernikahan di putuskan april pertengahan. Gila yak, 8 bulan saja untuk berani menentukan pilihan..
Chubby.sebut saja..jadi PAPI baru buat anak anak. Dia hanya 2 bersaudara. Adek bungsunya perempuan satu satunya dan mau masuk kuliah...
Pernikahan pun happening!
Anyway...life begin...
Masalah datang...mulai dari faktor pribadi yaitu prinsip, faktor ekonomi semuanya dateng bergantian.
Teriakan anak anakku yg masih kecil juga kadang bikin suasana jadi tambah panas.
Si Papi pun kaget syok dan stres menghadapi kehidupan baru yang begitu cadas. Kebutuhan susu..makanan..menghadapi anak anak..dll.
And...i am pregnant.
Wew..ini harusnya happy. Tapi unfortunately, perusahaan mengharuskan harus ada yg move salah satu karena kami sudah menikah. Dgn pertimbangan berat, aku yg move...mengalah...harapannya agar si papi bisa naik tingkat untuk jenjang karirnya.
Si papi ternyata kepalang kaget dgn kehidupan pernikahan yg tidak seindah atau semudah yabg dia bayangkan, dengan segala macam beban ekonomi di tambah plus plus 2 anak bawaan...
Si papi pun mulai sedikit demi sedikit mengadu kepada keluarganya...yg mana aku pun harus pindah tinggal di area keluarga nya yang hanya beberapa blok.
Puncaknya...setelah kelahiran si baby, sebulan kemudian musibah besar dihadapi keluarga besar kami.
Adiknya perempuan meninggal dunia 😔
...... sedih .... hancur .... nelangsa .....
Setelah pemakaman, selametan...tiba2 rumour beredar bahwa aku... wanita status janda 2 anak yg menikah dengannya... ada kaitannya dengan musibah ini.
Can u imagine how's my feel?
Dan parahnya... papi pun sepertinya berpendapat demikian. Well hey, so why you ask me to marry? 😡
2015. Maret pertengahan...
Hujan menyelimuti kota Jakarta.
Seperti biasa, kami berangkat bekerja bersama.
Hanya saja beberapa waktu terakhir aku melihat perubahan perbedaan pada sikap perilakunya. Tapi aku pasrah aja ama Tuhan. Semoga salah.
Ternyata firasatku benar...
Kawanku mengirim bbm menanyakan keberadaan dia si papi kenapa tdk masuk kerja. Aku dgn polosnya blg masuk karena berangkat sama sama. Dan aku pun mengirim bbm si papi.
Jawabannya adalah... "maaf mi...aku terpaksa pergi...aku ingin kita cerai"
.....
Ya.. bisa bayangkan? Pergi tanpa pesan... dan perpisahan hanya melalui pesan singkat?
Belum sampai disitu. Karena dia akan 'kembali' untuk pergi lagi
#perpisahan part 1